Setiap persekutuan pasti akan menghadapi keputusan-keputusan yang berat. Pertanyaan doktrinal. Konflik praktis. Pilihan-pilihan yang menentukan arah. Perselisihan tentang cara menerapkan Alkitab pada situasi yang tidak pernah diantisipasi siapa pun. Pertanyaannya bukan apakah sebuah jemaat yang setia akan menghadapi momen-momen ini — melainkan bagaimana.
Sebagian besar model pengambilan keputusan gereja modern bermuara pada salah satu dari dua ekstrem. Model otokratis membiarkan seorang pemimpin senior (atau dewan) memutuskan dan jemaat mengikuti. Model demokratis mempersoalkan segalanya melalui pemungutan suara jemaat dan suara mayoritas menang. Keduanya memiliki daya tariknya masing-masing. Keduanya gagal ketika diukur berdasarkan Perjanjian Baru.
Gereja mula-mula memberikan kita jalan ketiga — pola Kisah Para Rasul 15. Para pemimpin bermusyawarah. Jemaat terlibat. Firman diteliti. Roh didengar. Keputusan itu dimeteraikan dengan kata-kata yang telah menjadi ciri pengambilan keputusan Perjanjian Baru sejak saat itu:
Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban dari pada yang perlu ini.
— Kisah Para Rasul 15:28 (TB)
Roh Kudus, dan kami. Keduanya. Dalam urutan itu. Artikel ini menelusuri pola tersebut — dan pola Kisah Para Rasul 6 yang berkaitan — dan menunjukkan bagaimana sebuah persekutuan yang setia dapat mengambil keputusan yang bukan otokratis maupun demokratis, tetapi dipimpin oleh Roh dan melibatkan seluruh tubuh jemaat.
Konsili Kisah Para Rasul 15 secara Terperinci
Krisis yang melahirkan konsili Yerusalem adalah salah satu yang paling serius yang pernah dihadapi gereja mula-mula. Sejumlah orang percaya dari Yudea datang ke Antiokhia dan mengajarkan bahwa orang-orang non-Yahudi harus disunat dan memelihara hukum Musa untuk diselamatkan (Kisah Para Rasul 15:1, TB). Paulus dan Barnabas menentang mereka dengan keras. Perselisihan itu bukan sekadar akademis. Injil itu sendiri dipertaruhkan — apakah orang-orang percaya non-Yahudi sungguh-sungguh diselamatkan oleh iman di dalam Kristus saja, ataukah mereka memerlukan kuk tambahan berupa hukum Taurat?
Gereja setempat di Antiokhia tidak mampu menyelesaikannya. Maka sebuah delegasi pergi ke Yerusalem menemui para rasul dan para penatua.
Pertanyaan Diajukan di Hadapan Seluruh Jemaat
Setibanya di Yerusalem mereka disambut oleh jemaat dan oleh rasul-rasul dan penatua-penatua, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang Allah lakukan bersama-sama dengan mereka.
— Kisah Para Rasul 15:4 (TB)
Perhatikan siapa yang menyambut mereka. Jemaat dan rasul-rasul dan penatua-penatua. Bukan hanya kepemimpinan. Seluruh jemaat hadir dan terlibat. Pertanyaan yang serius dibawa ke hadapan seluruh komunitas secara terbuka.
Persoalan Dinyatakan dengan Jelas
Tetapi beberapa orang dari golongan Farisi, yang telah menjadi percaya, datang dan berkata: "Orang-orang bukan Yahudi harus disunat dan diwajibkan untuk menjalankan hukum Musa."
— Kisah Para Rasul 15:5 (TB)
Pandangan yang bertentangan diberi kesempatan untuk didengar. Saudara-saudara yang memegangnya berbicara. Jemaat mendengar posisi sesungguhnya yang sedang mereka hadapi — bukan karikatur, bukan distorsi, melainkan klaim mereka yang sebenarnya. Inilah prinsip pertama pengambilan keputusan alkitabiah: dengar perkaranya dengan jelas sebelum memutuskannya.
Para Pemimpin Bermusyawarah
Maka bersidanglah rasul-rasul dan penatua-penatua untuk membicarakan soal itu.
— Kisah Para Rasul 15:6 (TB)
Para rasul dan penatua berkumpul untuk bermusyawarah bersama. Bukan satu rasul yang memutuskan sendiri. Bahkan bukan Petrus seorang diri (atau Yakobus seorang diri, atau Paulus seorang diri) yang memutuskan. Bersama — kepemimpinan yang plural menimbang persoalan secara kolektif. Inilah pola Perjanjian Baru. Keputusan yang bermakna tidak dibuat oleh satu orang saja.
Diskusi Nyata dan Terbuka
Dalam sidang itu terjadi banyak perdebatan, lalu berdirilah Petrus...
— Kisah Para Rasul 15:7 (TB)
Banyak perdebatan. Perselisihan yang nyata. Pergumulan yang sesungguhnya. Teks itu tidak menggambarkan para pemimpin sebagai orang-orang yang langsung sepakat. Mereka bergumul satu sama lain melalui persoalan itu. Sebuah persekutuan yang setia bukanlah tempat di mana semua orang harus berpura-pura sepakat tentang segalanya sejak awal. Itu adalah tempat di mana perselisihan yang sesungguhnya dapat diungkapkan dengan jujur dan diselesaikan di bawah pimpinan Tuhan.
Para Saksi Didengar
Setelah Petrus berbicara (Kisah Para Rasul 15:7–11) dan menceritakan bagaimana Allah telah memberikan Roh kepada orang-orang non-Yahudi dalam pelayanannya kepada Kornelius, jemaat terdiam dan mendengarkan Paulus dan Barnabas:
Lalu diamlah seluruh umat itu, dan mereka mendengarkan Barnabas dan Paulus menceriterakan segala tanda dan mujizat yang dilakukan Allah di antara bangsa-bangsa lain oleh mereka.
— Kisah Para Rasul 15:12 (TB)
Kesaksian itu penting. Apa yang telah sungguh-sungguh Allah kerjakan — bukan apa yang dikatakan para teolog seharusnya Dia kerjakan — dibawa ke dalam musyawarah. Jemaat mendengar bagaimana Roh bergerak di tengah orang-orang non-Yahudi. Ini bukan satu-satunya data dalam keputusan itu, tetapi merupakan data yang nyata. Karya Allah yang nyata dibiarkan berbicara.
Alkitab Diteliti
Setelah kesaksian-kesaksian itu, Yakobus berbicara — dan kontribusinya adalah membawa Firman ke dalam musyawarah:
Hal itu sesuai dengan perkataan-perkataan para nabi seperti yang tertulis: Kemudian Aku akan kembali dan membangun kembali pondok Daud yang telah roboh, dan reruntuhannya akan Kubangun kembali dan akan Kuteguhkan, supaya semua orang lain mencari Tuhan dan segala bangsa yang tidak mengenal Allah, yang Kusebut milik-Ku demikianlah firman Tuhan yang melakukan semuanya ini,
— Kisah Para Rasul 15:15–17 (TB)
Yakobus mengutip Amos. Ia menunjukkan bahwa apa yang Allah kerjakan di antara orang-orang non-Yahudi selaras dengan apa yang Allah katakan akan Dia lakukan melalui para nabi. Kitab Suci mengkonfirmasi apa yang kesaksian deskripsikan. Firman dibiarkan memiliki otoritasnya yang semestinya — bukan sebagai ayat pembuktian setelah keputusan dibuat, melainkan sebagai lensa untuk menafsirkan apa yang sedang terjadi.
Keputusan Dirumuskan
Sebab itu aku berpendapat, bahwa kita tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi mereka dari bangsa-bangsa lain yang berbalik kepada Allah. Tetapi kita harus menulis surat kepada mereka, supaya mereka menjauhkan diri dari makanan yang telah dicemarkan berhala-berhala, dari percabulan, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari darah.
— Kisah Para Rasul 15:19–20 (TB)
Yakobus, sebagai pemimpin jemaat Yerusalem, merumuskan keputusan yang sedang terbentuk. Perannya bukan untuk mendiktekan, melainkan untuk mengkristalkan. Ia mendengar apa yang Roh telah sampaikan melalui musyawarah, kesaksian-kesaksian, dan Kitab Suci, dan ia menyatakan kesimpulan itu dengan jelas: jangan membebani orang-orang percaya non-Yahudi dengan hukum Taurat; hanya mintakan mereka empat hal yang menyentuh hati nurani dan persekutuan antara orang Yahudi dan non-Yahudi.
Seluruh Jemaat Meneguhkan
Maka rasul-rasul dan penatua-penatua beserta seluruh jemaat itu memutuskan untuk memilih beberapa orang dari antara mereka dan mengutus mereka ke Antiokhia bersama-sama dengan Paulus dan Barnabas...
— Kisah Para Rasul 15:22 (TB)
Para rasul dan penatua meneguhkan keputusan itu. Seluruh jemaat meneguhkannya bersama mereka. Ini bukan pemungutan suara dalam pengertian demokratis modern — tidak ada penghitungan kepala atau mayoritas yang diperlukan. Ini adalah jemaat yang bersama-sama mengakui apa yang telah Roh tunjukkan dan para pemimpin rumuskan. Peneguhan jemaat itu nyata, dan tanpa itu, keputusan tersebut tidak akan bergerak maju.
Keputusan Dimeteraikan
Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban dari pada yang perlu ini.
— Kisah Para Rasul 15:28 (TB)
Inilah kata-kata yang telah menjadi ciri pengambilan keputusan yang dipimpin Roh dalam gereja. Roh Kudus dan kami. Urutannya penting. Roh Kudus disebutkan pertama karena Dialah agen utama. Peran jemaat — dan kami — nyata tetapi bersifat turunan. Keputusan itu dibuat karena Roh telah bergerak melalui musyawarah, kesaksian, Kitab Suci, kepemimpinan, dan jemaat. Semuanya adalah Tuhan yang bekerja dalam umat-Nya, dan kata-kata yang dihasilkan adalah kesimpulan bersama mereka di bawah pimpinan-Nya.
Pola Kisah Para Rasul 6 — Jenis Keputusan yang Berbeda
Tidak setiap keputusan mencapai tingkat Kisah Para Rasul 15. Beberapa bersifat praktis, bukan doktrinal. Gereja mula-mula memiliki pola untuk hal-hal tersebut juga.
Pada masa itu, ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani, karena pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan dalam pelayanan sehari-hari. Berhubung dengan itu kedua belas rasul itu memanggil semua murid berkumpul dan berkata: "Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja. Karena itu, saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu, dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman."
— Kisah Para Rasul 6:1–4 (TB)
Usul itu diterima baik oleh seluruh murid itu, lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia. Mereka itu dihadapkan kepada rasul-rasul, lalu rasul-rasul itu pun berdoa dan meletakkan tangan di atas mereka.
— Kisah Para Rasul 6:5–6 (TB)
Perhatikan polanya dengan seksama:
- Para rasul menetapkan kriteria — tujuh orang yang terkenal baik, penuh Roh dan hikmat
- Jemaat memilih orang-orang yang memenuhi kriteria tersebut
- Para rasul mengkonfirmasi pilihan itu dengan doa dan penumpangan tangan
Para pemimpin menetapkan standar. Jemaat mendisernmenkan siapa yang memenuhinya. Para pemimpin mengkonfirmasi dan mengutus. Otoritas dan partisipasi bekerja bersama-sama.
Ini adalah perpaduan yang berbeda dari Kisah Para Rasul 15, tetapi prinsip yang sama sedang beroperasi: para pemimpin memikul tanggung jawab yang nyata, jemaat sungguh-sungguh terlibat, keputusan dibuat di bawah pimpinan Roh. Keputusan yang berbeda membutuhkan perpaduan yang berbeda — tetapi baik otokrasi maupun demokrasi murni bukanlah apa yang ditunjukkan Perjanjian Baru.
Lima Unsur Pengambilan Keputusan yang Setia
Di seluruh Kisah Para Rasul 15 dan Kisah Para Rasul 6 — dan pola-pola terkait di tempat lain dalam Perjanjian Baru — lima unsur secara konsisten muncul dalam pengambilan keputusan yang sehat.
Kepemimpinan yang Plural Bermusyawarah
Keputusan yang bermakna tidak dibuat oleh satu orang saja. Para rasul dan penatua bermusyawarah bersama. Persekutuan-persekutuan yang bijak hari ini melakukan hal yang sama. Kepenatuaan menimbang persoalan, saling mendengarkan, berdoa bersama, dan bersama-sama sampai pada kejelasan. Keyakinan seorang pemimpin saja tidak cukup.
Jemaat Terlibat, Bukan Sekadar Diberi Tahu
Jemaat tidak sekadar diberitahu keputusan setelahnya. Jemaat dilibatkan dalam prosesnya. Kadang melalui partisipasi mereka dalam diskusi (Kisah Para Rasul 15). Kadang melalui pemilihan mereka atas orang-orang yang akan menjalankan keputusan tersebut (Kisah Para Rasul 6). Kadang melalui doa dan penantian bersama sementara kepemimpinan bermusyawarah. Selalu dengan keterlibatan yang nyata — bukan sekadar diberi tahu kesimpulan yang dicapai tanpa mereka.
Alkitab Diteliti
Firman dibawa ke dalam musyawarah. Apa yang Allah firmankan tentang jenis pertanyaan ini? Pola apa yang telah Ia berikan? Di mana tidak ada firman langsung, hikmat apa yang diberikan Kitab Suci untuk menavigasi jenis persoalan ini? Sebuah keputusan yang setia akan selalu dapat diuji berdasarkan Kitab Suci dan tidak pernah bertentangan dengannya.
Roh Didengar
Waktu diberikan untuk mendengar Roh — melalui doa, kadang puasa, melalui masukan profetis jika ada, melalui kesaksian batin orang-orang percaya yang dewasa, kadang melalui keadaan-keadaan yang mengkonfirmasi suatu arah. Keputusan tidak dibuat dengan kecepatan strategi manusiawi. Keputusan dibuat dengan kecepatan pimpinan Roh.
Keputusan Dimiliki Bersama
Setelah keputusan diambil, jemaat memilikinya bersama. Tidak ada faksi-faksi yang kemudian berkata "saya tidak setuju tapi ikut saja." Musyawarah telah berlangsung. Keputusan telah muncul. Jemaat telah meneguhkannya. Sejak saat itu, itu adalah keputusan kita. Jika kemudian muncul informasi baru yang sungguh-sungguh baru, jemaat dapat meninjau ulang. Tetapi merongrong keputusan yang telah jemaat tetapkan bukanlah sikap yang setia.
Penerapan Praktis — Bagaimana Persekutuan Menjalankannya
Dalam gereja rumah atau persekutuan kecil, keputusan-keputusan yang bermakna dapat dinavigasi menggunakan lima unsur ini. Berikut beberapa contoh umum:
Muncul Pertanyaan Doktrinal
Jemaat telah memegang posisi tertentu mengenai suatu doktrin. Seseorang mengajukan pertanyaan. Studi baru menunjukkan bahwa pemahaman sebelumnya mungkin tidak memadai. Perselisihan mulai muncul.
Pola Kisah Para Rasul 15: bawa persoalan itu ke hadapan publik. Dengarkan mereka yang memegang pandangan berbeda. Biarkan para penatua bermusyawarah. Teliti Kitab Suci. Dengar apa yang dikatakan orang-orang percaya yang dewasa dalam jemaat dan di luarnya. Berdoa dan nantikan pimpinan Roh. Rumuskan apa yang mulai menjadi jelas. Bawa kepada jemaat untuk peneguhan. Melangkah maju bersama.
Ini mungkin membutuhkan waktu berminggu-minggu. Kadang berbulan-bulan. Langkah yang lambat bukanlah kegagalan; itu adalah jemaat yang sungguh-sungguh mendengarkan Tuhan daripada terburu-buru mengambil keputusan.
Datang Persoalan Disiplin
Seorang saudara laki-laki atau perempuan dalam jemaat telah jatuh ke dalam dosa. Percakapan-percakapan pribadi belum menyelesaikannya. Persoalan itu kini telah sampai kepada para penatua.
Berbeda dari Kisah Para Rasul 15 — ini membutuhkan penanganan yang lebih hati-hati karena sifat personal dari situasinya. Namun prinsip yang sama berlaku. Para penatua bermusyawarah bersama (bukan satu penatua saja yang mengambil keputusan). Firman diteliti (Matius 18, 1 Korintus 5, Galatia 6 — lihat artikel tentang disiplin gereja alkitabiah). Roh dimintai petunjuk. Jemaat dilibatkan pada tahap yang tepat. Keputusan itu bertujuan untuk pemulihan, bukan hukuman, dan dilakukan dengan duka daripada kesombongan rohani.
Pertanyaan Penentuan Arah
Apakah persekutuan akan menanam jemaat lain di kota terdekat? Apakah mereka akan mulai mengirimkan dukungan kepada pasangan misionaris? Apakah mereka akan membeli properti kecil untuk pertemuan, atau terus bertemu di rumah-rumah?
Pola Kisah Para Rasul 13 adalah yang paling cocok di sini:
Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus: "Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka." Maka berpuasa dan berdoalah mereka, dan setelah meletakkan tangan ke atas kedua orang itu, mereka membiarkan keduanya pergi.
— Kisah Para Rasul 13:2–3 (TB)
Jemaat melayani Tuhan. Puasa dan doa. Roh berbicara. Para pemimpin mengkonfirmasi. Jemaat bergerak. Keputusan penentuan arah khususnya membutuhkan pimpinan Roh, karena strategi manusia saja tidak dapat melihat apa yang Ia lihat.
Konflik antara Orang-orang Percaya
Dua anggota jemaat berada dalam konflik serius. Percakapan langsung di antara mereka belum menyelesaikannya.
Pola Matius 18:15–17 berlaku di sini, dengan para penatua dilibatkan pada tahap yang tepat. Prinsipnya sama dengan Kisah Para Rasul 15 dalam skala kecil: dengar kedua belah pihak, timbang di bawah Kitab Suci dan pimpinan Roh, rumuskan apa yang hikmat tunjukkan, bawa pihak-pihak tersebut kepada perdamaian jika mungkin. Tujuannya adalah rekonsiliasi. Musyawarahnya adalah di antara pihak-pihak yang terlibat langsung (dengan nasehat yang dewasa) sebelum pernah menjadi perkara seluruh jemaat.
Kesalahan-Kesalahan Umum dalam Pengambilan Keputusan
Sebuah persekutuan yang setia juga belajar cara-cara umum pengambilan keputusan yang salah.
Terburu-buru Mengambil Keputusan
Tekanan menumpuk — biasanya dari luar — untuk memutuskan dengan cepat. Jemaat memutuskan sebelum musyawarah selesai, sebelum Kitab Suci diteliti, sebelum Roh didengar. Keputusan yang buruk mengikuti. Obatnya adalah kesabaran. Jika Tuhan menghendaki sesuatu, Ia dapat menunggu cukup lama bagi jemaat untuk mendengar-Nya dengan jelas.
Membiarkan Suara Terkuat yang Menang
Dalam persekutuan-persekutuan yang lebih kecil khususnya, satu kepribadian yang dominan dapat mendorong keputusan melalui kekuatan keyakinan atau kehadiran sosialnya semata. Jemaat mengalah karena konflik terasa tidak nyaman. Keputusan itu sebenarnya tidak dimusyawarahkan; itu diberikan secara sepihak. Obatnya adalah kepenatuaan yang plural yang sungguh-sungguh bermusyawarah dan jemaat yang diajarkan untuk menimbang — bukan sekadar tunduk.
Menganggap Mendengar Roh sebagai Pilihan
Sebuah persekutuan melewati musyawarah, memutuskan, dan melanjutkan — tanpa pernah sungguh-sungguh menunggu Tuhan. Roh mungkin ingin mengarahkan ulang. Ia tidak dimintai pendapat. Obatnya adalah membangun doa korporat dan penantian ke dalam budaya jemaat sehingga hal itu tidak dilewati di bawah tekanan.
Mencampuradukkan Peneguhan dengan Pemungutan Suara
Peneguhan jemaat dalam Kisah Para Rasul 15 bukanlah pemungutan suara berdasarkan penghitungan kepala. Itu adalah jemaat yang bersama-sama mengakui apa yang telah Roh tunjukkan. Tidak ada mekanisme alkitabiah untuk 51 persen mengalahkan 49 persen. Jika jemaat sungguh-sungguh terbagi, keputusan itu belum siap. Doa lebih lanjut, musyawarah lebih lanjut, waktu lebih lanjut mungkin diperlukan. Kadang jawabannya adalah "tunggu." Kadang pertanyaannya sendiri yang salah. Obatnya adalah kesabaran dan kesediaan untuk meninjau ulang daripada memaksakan resolusi sebelum persatuan itu nyata.
Menolak untuk Melibatkan Jemaat
Beberapa pemimpin, bahkan dengan niat terbaik sekalipun, memutuskan secara pribadi lalu mengumumkannya. Jemaat diberi tahu, tidak dilibatkan. Seiring waktu hal ini menghasilkan kepasifan dalam jemaat dan isolasi dalam kepemimpinan. Obatnya adalah keterlibatan jemaat yang disengaja dan berkelanjutan — bukan sebagai formalitas, tetapi sebagai ekspresi nyata bagaimana Kristus memimpin tubuh-Nya bersama-sama.
Pertanyaan-Pertanyaan Umum
Bagaimana jika jemaat dan para penatua tidak setuju?
Ini adalah momen yang serius. Biasanya berarti lebih banyak musyawarah diperlukan — jemaat tidak melihat apa yang dilihat para penatua, atau para penatua melewatkan sesuatu yang jemaat discern. Bawa kembali persoalan itu ke hadapan publik. Berdoa bersama. Teliti Kitab Suci. Nantikan Roh. Dalam kebanyakan kasus, ketidaksetujuan yang nyata antara para penatua dan jemaat menunjukkan bahwa musyawarah belum lengkap. Obatnya adalah lebih banyak waktu, bukan tindakan sepihak oleh salah satu pihak.
Bagaimana jika satu anggota jemaat menentang keputusan yang telah diteguhkan oleh seluruh jemaat?
Dengarkan mereka. Ambil kekhawatiran mereka dengan serius. Kadang satu orang percaya melihat apa yang luput dari perhatian orang lain; Roh dapat berbicara melalui anggota mana pun. Jika setelah pertimbangan yang jujur, discernment jemaat mengkonfirmasi arah semula, anggota yang berbeda pendapat diminta untuk berjalan bersama keputusan jemaat — bukan karena pandangan mereka tidak penting, melainkan karena Tuhan telah berbicara melalui discernment kolektif jemaat. Jika mereka tidak bisa, itu adalah hati nurani mereka sendiri yang harus mereka hadapi. Jemaat melanjutkan dengan apa yang telah Tuhan tunjukkan.
Bagaimana kita mengambil keputusan operasional kecil tanpa melalui seluruh proses ini?
Sebagian besar keputusan tidak berada pada level Kisah Para Rasul 15. Para penatua membuat keputusan-keputusan rutin dalam menjalankan penggembalaan mereka. Jemaat diberi tahu. Kitab Suci diikuti di mana ia berbicara. Roh dihormati. Pola-pola Kisah Para Rasul 15 diperuntukkan bagi perkara-perkara yang memiliki signifikansi doktrinal, penentuan arah besar, atau konflik serius.
Bukankah ini membutuhkan terlalu lama untuk kehidupan modern?
Kadang memang membutuhkan waktu lebih lama dari yang disukai kepribadian-kepribadian yang tidak sabar. Itu adalah bagian dari biaya berjalan bersama Tuhan daripada berjalan dengan kecepatan urgensi manusiawi. Sebagian besar keputusan yang sungguh-sungguh membutuhkan pimpinan-Nya juga mendapat manfaat dari waktu yang dibutuhkan untuk mendiscern-Nya dengan jelas. Sebuah persekutuan yang bersedia menunggu ketika menunggu diperlukan akan membuat keputusan yang lebih baik selama bertahun-tahun daripada persekutuan yang terburu-buru.
Bagaimana dengan pemungutan suara dalam rapat jemaat?
Perjanjian Baru tidak menunjukkan pengambilan suara secara formal. Ia menunjukkan discernment, musyawarah, perumusan, dan peneguhan. Beberapa persekutuan menggunakan pemungutan suara sebagai mekanisme akhir untuk mengekspresikan peneguhan atas keputusan yang telah dimusyawarahkan. Itu baik-baik saja pada prinsipnya — tetapi sebuah pemungutan suara tidak boleh menjadi pengganti musyawarah yang seharusnya mendahuluinya, dan sebuah suara yang terpecah (60/40, 70/30) seharusnya menjadi sinyal bahwa lebih banyak musyawarah diperlukan, bukan bahwa mayoritas memiliki otoritas atas minoritas.
Pemikiran Akhir
Cara sebuah persekutuan mengambil keputusan mengungkapkan apa yang sebenarnya diyakininya tentang siapa yang memimpin gereja. Sebuah jemaat yang secara default bergantung pada satu pemimpin yang kuat secara fungsional memperlakukan pemimpin itu sebagai Kepala. Sebuah jemaat yang mempersoalkan segalanya melalui pemungutan suara secara fungsional memperlakukan mayoritas sebagai Kepala. Sebuah jemaat yang sungguh-sungguh bermusyawarah sebagai kepemimpinan yang plural, melibatkan jemaat, meneliti Kitab Suci, dan menunggu Roh memperlakukan Kristus sebagai Kepala — dan hasilnya, seiring waktu, adalah keputusan-keputusan yang menanggung tanda-Nya.
Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami.
— Kisah Para Rasul 15:28 (TB)
Itulah tujuannya. Bukan "para penatua yang memutuskan." Bukan "jemaat yang memilih." Tetapi Roh dan jemaat bersama-sama — kepemimpinan yang dijalankan di bawah Kristus, jemaat yang terlibat di dalam-Nya, keputusan yang dimeteraikan oleh kesaksian-Nya dan kesaksian umat yang telah Ia himpun. Sebuah persekutuan yang belajar mengambil keputusan dengan cara ini bertumbuh dalam kedewasaan, dalam kesatuan, dan dalam kesenangan Tuhan selama bertahun-tahun.
Poin-Poin Kunci
- Konsili Kisah Para Rasul 15 menunjukkan pola Perjanjian Baru — bukan otokratis maupun demokratis, melainkan dipimpin Roh, dimusyawarahkan oleh pemimpin, melibatkan jemaat
- Lima unsur secara konsisten muncul dalam pengambilan keputusan yang setia: kepemimpinan yang plural bermusyawarah, jemaat terlibat, Alkitab diteliti, Roh didengar, keputusan dimiliki bersama
- Pola Kisah Para Rasul 6 adalah varian untuk keputusan praktis — pemimpin menetapkan kriteria, jemaat memilih, pemimpin mengkonfirmasi
- Pola Kisah Para Rasul 13 cocok untuk keputusan penentuan arah — jemaat melayani dan berpuasa, Roh berbicara, pemimpin mengkonfirmasi dan mengutus
- Kesalahan-kesalahan umum mencakup terburu-buru mengambil keputusan, membiarkan suara terkuat yang menang, melewatkan Roh, mencampuradukkan peneguhan dengan pemungutan suara, dan menolak untuk melibatkan jemaat
- Rumusan penutup — "adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami" — adalah ujian setiap keputusan gereja yang setia
- Proses pengambilan keputusan sebuah persekutuan mengungkapkan siapa yang sebenarnya ia perlakukan sebagai Kepala gereja