Apa Arti "Gereja" Sesungguhnya?

Apa Arti "Gereja" Sesungguhnya?

Tanyakan kepada kebanyakan orang apa arti kata "gereja," dan mereka akan menunjuk ke sebuah gedung. Menara lonceng, aula ibadah, tempat yang dikunjungi pada hari Minggu. "Kamu gereja di mana?" "Kami sedang membangun gedung gereja baru." "Gerejanya ada di sudut jalan itu." Dalam penggunaan sehari-hari, "gereja" telah menjadi sebuah tempat.

Namun kata yang sesungguhnya digunakan dalam Perjanjian Baru sama sekali tidak berarti demikian. Kata Yunaninya adalah ekklesia (jemaat yang dipanggil keluar), dan ia tidak pernah merujuk pada gedung. Ia merujuk pada manusia — sekumpulan orang yang dipanggil keluar dan berkumpul bersama. Memulihkan makna sejati dari satu kata ini mengubah cara kita membaca seluruh Perjanjian Baru, dan meruntuhkan salah satu asumsi terdalam agama modern: bahwa "gereja" adalah tempat yang kita datangi, bukan sesuatu yang kita adalah.

Gereja bukan tempat yang kamu datangi. Gereja adalah umat yang kepadanya kamu berasal. Gedung itu tidak pernah menjadi gereja — yang selalu menjadi gereja adalah umat yang dipanggil keluar dan berkumpul bersama.

Ekklesia — Kumpulan yang Dipanggil Keluar

Kata ekklesia dibangun dari dua bagian Yunani: ek, berarti "keluar," dan bentuk dari kaleo, berarti "memanggil." Secara harfiah, artinya adalah "orang-orang yang dipanggil keluar" — mereka yang dipanggil dan dikumpulkan bersama. Dalam bahasa Yunani sehari-hari pada zaman Perjanjian Baru, ekklesia sama sekali bukan kata keagamaan. Ia adalah kata kewarganegaraan. Kata ini menggambarkan kumpulan warga yang dipanggil keluar dari rumah dan pekerjaan mereka untuk berkumpul di alun-alun kota dan mengurus urusan kota.

Makna biasa ini terpelihara tepat di dalam Perjanjian Baru. Dalam Kisah Para Rasul 19, sebuah kerusuhan meletus di Efesus, dan Lukas menggunakan ekklesia tiga kali untuk menggambarkan perkumpulan warga kota yang kacau — diterjemahkan "sidang," tanpa makna keagamaan sama sekali:

Sementara itu sebagian orang berseru macam ini dan sebagian lagi macam itu, karena sidang itu kacau dan kebanyakan dari mereka tidak tahu mengapa mereka berkumpul di sana.

— Kisah Para Rasul 19:32 (TB)

Sesudah berkata demikian, ia membubarkan sidang itu.

— Kisah Para Rasul 19:41 (TB)

Itulah makna polos dari kata yang dipilih Yesus dan para rasul. Ketika mereka menyebut umat Allah sebagai ekklesia, mereka tidak menggambarkan gedung yang sakral atau kebaktian keagamaan. Mereka menggambarkan sebuah umat — mereka yang dipanggil keluar oleh Allah dan dikumpulkan bersama sebagai kumpulan milik-Nya sendiri.

Kata yang Dipilih Yesus

Hal ini membuat penggunaan pertama kata tersebut oleh Yesus yang tercatat menjadi semakin mencolok. Ketika Ia mengumumkan apa yang akan Ia bangun, Ia tidak mengatakan bahwa Ia akan membangun bait, sinagoge, atau tempat kudus. Ia berkata bahwa Ia akan membangun ekklesia-Nya — umat-Nya:

Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.

— Matius 16:18 (TB)

Yesus tidak menjanjikan sebuah proyek konstruksi. Ia menjanjikan sebuah umat — kumpulan yang dipanggil keluar, yang berkumpul, dan yang hidup; yang bahkan neraka sekalipun tidak dapat mengalahkannya. Dan beberapa pasal kemudian, Ia memberitahu kita betapa kecilnya kumpulan itu bisa menjadi dan tetap disebut yang sesungguhnya:

Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.

— Matius 18:20 (TB)

Dua atau tiga orang, berkumpul dalam nama-Nya, dengan Kristus hadir di tengah-tengah mereka — itulah ekklesia. Tidak perlu gedung. Tidak perlu klerus. Tidak perlu program. Di mana umat-Nya yang dipanggil keluar berkumpul dalam nama-Nya, jemaat hadir sepenuhnya.

Bagaimana "Gereja" Menjadi Berarti Gedung

Jika ekklesia berarti umat yang dipanggil keluar, dari mana kata "gereja" — dengan segala asosiasi gedung dan arsitekturnya — berasal? Kata itu sama sekali tidak berasal dari ekklesia.

Kata "gereja" berasal dari kata Yunani yang berbeda: kyriakon, yang berarti "kepunyaan Tuhan," sering digunakan dalam frasa "rumah Tuhan." Selama berabad-abad, ketika Kekristenan tumbuh menjadi kaya dan terlembagakan serta mulai membangun gedung-gedung khusus, kata untuk "rumah Tuhan" itu menempel pada gedung-gedung tersebut — dan itulah kata yang kemudian masuk ke dalam bahasa Inggris, Jerman, dan bahasa-bahasa Eropa utara sebagai "church," "kirk," dan "Kirche."

Maka terjadilah pergantian diam-diam dalam bahasa itu sendiri. Kata Perjanjian Baru untuk umat (ekklesia) secara bertahap tergantikan, dalam percakapan umum, oleh sebuah kata untuk gedung (kyriakon). Pergeseran ini bukan sekadar linguistik; ia mencerminkan dan memperkuat perubahan dalam cara orang memahami iman. Gereja berhenti dipahami sebagai sebuah umat dan mulai dipahami sebagai sebuah tempat.

Patut dicatat bahwa hal ini mengganggu sebagian penerjemah Alkitab yang agung. Ketika William Tyndale menerjemahkan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Inggris pada abad keenam belas, ia dengan sengaja menerjemahkan ekklesia sebagai "congregation" (jemaat/kumpulan) daripada "church" — justru untuk mempertahankan fokus pada umat yang berkumpul, bukan pada sebuah institusi atau gedung. Ia memahami bahwa kata tersebut membawa makna, dan bahwa maknanya telah hilang.

Kata "gereja" dalam bahasa sehari-hari berasal dari kata untuk gedung. Kata Perjanjian Baru "ekklesia" berasal dari kata untuk umat yang dipanggil keluar. Kita mewarisi yang keliru.

Gereja Adalah Tubuh, Bukan Gedung

Begitu kamu memahami apa arti ekklesia, semua gambaran Perjanjian Baru tentang gereja berbaris di belakangnya. Gereja tidak pernah digambarkan sebagai bangunan batu. Ia digambarkan sebagai tubuh yang hidup, dengan Kristus sebagai Kepalanya:

Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu.

— Kolose 1:18 (TB)

Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya.

— 1 Korintus 12:27 (TB)

Tubuh adalah manusia. Satu-satunya "bait" yang diakui Perjanjian Baru di bawah perjanjian baru adalah orang-orang percaya itu sendiri, baik secara pribadi maupun sebagai jemaat yang berkumpul:

Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?

— 1 Korintus 3:16 (TB)

Tidak ada perintah dalam Perjanjian Baru untuk membangun gedung, tidak ada cetak biru untuk tempat kudus, tidak ada instruksi untuk menyisihkan arsitektur yang sakral. Para orang percaya mula-mula berkumpul di rumah-rumah sebagai kelaziman, dan jemaat tidak kurang menjadi jemaat karenanya:

Salam juga kepada jemaat di rumah mereka.

— Roma 16:5 (TB)

"Jemaat yang ada di rumah mereka" — ekklesia yang bertemu di sebuah rumah. Bagi orang-orang percaya mula-mula, ungkapan ini sangat wajar, karena mereka tahu bahwa gereja adalah orangnya, bukan tempatnya.

Mengapa Satu Kata Ini Mengubah Segalanya

Ini bukan sekadar soal trivia. Makna ekklesia secara diam-diam menyelesaikan beberapa pertanyaan paling praktis tentang kehidupan dan perkumpulan Kristen.

  • Bolehkah beribadah di rumah? Tentu saja — karena gereja adalah umat yang dipanggil keluar dan berkumpul dalam nama-Nya, dan sebuah rumah adalah tempat yang sama layaknya tempat mana pun. Tidak ada gedung yang menjadikan sebuah perkumpulan sebagai "gereja"; hanya ada umat-Nya yang berkumpul dalam nama-Nya.
  • Seberapa kecil sebuah gereja bisa menjadi? Sekecil dua atau tiga orang yang berkumpul dalam nama-Nya, dengan Kristus di tengah-tengah mereka. Sebuah persekutuan kecil bukan gereja yang lebih rendah; ia adalah ekklesia sepenuhnya.
  • Apa yang menjadikan sebuah perkumpulan sebagai gereja? Bukan arsitektur, bukan klerus, bukan program — melainkan umat Kristus yang dipanggil keluar, berkumpul dalam nama-Nya, dengan Dia hadir di antara mereka.
  • Di mana gereja itu? Di mana pun umat-Nya berada. Gereja bukan di sudut sebuah jalan. Ia ada di bumi, tersebar di rumah-rumah dan kota-kota, berkumpul dalam nama-Nya.

Dua atau tiga orang, berkumpul dalam nama-Nya, dengan Kristus di tengah-tengah mereka — itulah gereja. Segala sesuatu yang lain hanyalah tempat di mana mereka kebetulan bertemu.

Langkah Selanjutnya

Memulihkan makna ekklesia adalah awal dari melihat gereja sebagaimana Perjanjian Baru melihatnya — bukan sebagai gedung yang kamu datangi, melainkan sebagai umat Allah yang dipanggil keluar dan kepadanya kamu berasal, dengan Kristus sendiri di tengah-tengah kamu.

→ Apa itu gereja rumah? — kembali kepada pola Perjanjian Baru

→ Bolehkah beribadah di rumah? — landasan alkitabiah dan praktis

→ Fondasi-Fondasi — dasar alkitabiah lengkap bagi gereja Perjanjian Baru

→ Imamat semua orang percaya — mengapa setiap orang percaya melayani

→ Ibadah dalam gereja rumah — partisipasi, karunia-karunia Roh, dan doa